Banyak Toserba Tutup, Bos Lippo: Ada Siklus Yang Kritis

Banyaknya toko ritel serta pusat perbelanjaan yang tutup di Jakarta, disebabkan oleh siklus kritis yang dihadapi sektor tersebut. Ada perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Memang dunia ritel ini menghadapi siklus yang kritis, di mana pola konsumsi dari masyarakat berubah,” kata CEO Lippo Group, James Riady, di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis malam tadi.

Tidak hanya tengah memasuki siklus yang kritis, James menyebutkan, bahwa persaingan di sektor ini juga sangat dinamis.

“Persaingan antara hypermarket dan mini market itu sangat dinamis. Jadi dengan demikian itu satu titik yang kritis namun prospeknya sangat baik,” jelas dia.

Oleh sebab itu, kata James, para pelaku usaha atau pengelola pusat perbelanjaan maupun ritel harus berbenah diri untuk menyesuaikan perkembangan teknologi.

Dengan berkembangnya teknologi, maka tanpa disadari para pelaku e-commerce atau toko online di Indonesia sudah banyak dan menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan.

“Jadi itu paralel, di satu sisi yang ada terus dikembangkan di lain sisi online mesti dikembangkan secara agresif,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roslani, mengatakan untuk menggeliatkan daya beli masyarakat serta meramaikan penjualan-penjualan produk di pusat perbelanjaan ataupun ritel, Kadin mengusulkan adanya pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan jangka waktu yang ditentukan.

“Kami juga usulkan terobosan-terobosan selama misalnya 1 minggu orang belanja enggak dikenakan PPN (Pajak Pertambahan Nilai), supaya orang itu spending,” katanya.

Pembebasan PPN, kata Rosan, dinilai mampu meningkatkan belanja masyarakat yang selama ini ditahan. Usulan tersebut juga bertujuan menjaga tingkat penjualan pusat perbelanjaan dan ritel yang belakangan ini turun.

“Usulan itu diserahkan kepada menteri, dan Bu Menteri Sri Mulyani merespons positif,” kata Rosan.

Rosan melanjutkan, usulan pengghapusan PPN juga telah menimbang beberapa hal, seperti penerimaan pajak. “Inikan kita usulkan, kita akan hitung, apakah ada penurunan tapi membuat masyarakat spending dan multiplier effect-nya jauh lebih tinggi,” jelas dia.

Meski demikian, Rosan juga tetap mengimbau kepada seluruh pengelola pusat perbelanjaan agar terus berbenah diri di era digital ekonomi.

“Kita sampaikan bahwa ini pergeseran orang belanja, mulainya kecil, tapi itu dampaknya juga ke pembelanjaan,” ungkap dia.

Sumber: detikFinance